Investigasi 101 East (Internasional) terhadap Pendidikan Indonesia

Anies Baswedan

101 East (International) menyelidiki mengapa sistem pendidikan Indonesia termasuk salah satu yang paling buruk di Indonesia

Al JazeeraTV – Akhir-akhir ini, Indonesia berada di peringkat terakhir dalam sebuah laporan pendidikan keaksaraan yang penting yang diukur dari hasil tes, tingkat kelulusan, dan tolak ukur lainnya di 50 negara.

Sistem pendidikan yang buruk pasti mempunyai penyebab, masalah dan sebagainya. Indonesia mempunyai banyak guru/tenaga pengajar, tetapi pendistrubusian yg buruk memberikan lebih banyak masalah.

Pendistribusian tenaga pengajar sangat jauh berbeda antara pedesaan dengan perkotaan. Banyak desa yang masih kekurangan tenaga pengajar. Selain itu, hanya 51% dari guru Indonesia yang mempunyai kecakapan yang baik untuk mengajar [Al Jazeera/Karima Anjani].

“Mari kita lihat dari tantangan dan masalah pada isu tentang guru. Kita mempunyai cukup guru, tetapi pendistribusiannya TIDAK SEIMBANG. Di tempat terpencil, 66% yang jauh dari sekolah tidak punya cukup guru. Selain itu, kualitas tenaga pengajarnya juga berkualitas buruk”, ujar Anies Baswedan, pendiri Indonesia Mengajar.

Pendidik Indonesia dan komentator telah mengecam bahwa sistem sekolah negeri lebih menekankan pada belajar menghafal daripada berpikir kreatif. Sebuah budaya pengajaran yang masih terpaku dalam pendekatan yang kaku.

“Teknik mengajar para guru masih konvensional, bahkan tidak semua guru yang bisa menggunakan komputer. Itulah yang terjadi pada umumnya. Saya pikir, jika para guru selalu berkembang seperti guru-guru di singapura atau australia, kualitas mengajar mereka akan menjadi baik”, pendapat Artika Nuswanigrum, Siswi SMA di jakarta.

Pemerintah Indonesia memperkenalkan kurikulum baru dalam upaya untuk menyederhanakan pendidikan, slash drop-out dan menghasilkan lebih banyak PhD. Salah satu usulan pemerintah yang paling kontroversial adalah menghapuskan atau menunda pengajaran ilmu pengetahuan, geografi dan bahasa Inggris di sekolah dasar dan bukannya memperkenalkan mata kuliah wajib yang mempromosikan identitas nasional dan nilai-nilai patriotik.

Banyak pendidik yang khawatir bahwa hal ini bisa mendorong Indonesia kembali ke Zaman dahulu (konvensional) di dunia yang cepat mengglobal. Mereka berpendapat bahwa tahun-tahun awal anak adalah waktu untuk menyediakan mereka dengan pendidikan yang lebih formatif menggunakan pemikiran kritis, terutama mengingat tingkat putus tinggi setelah sekolah dasar.

Tapi pemerintah telah membela perubahan kurikulum dengan menyatakan bahwa mereka mencoba untuk menyederhanakan sistem sekolah yang telah dikritik untuk siswa SD luar biasa dengan mata pelajaran terlalu banyak.

Setelah mengetahui keadaan dan penyebab pendidikan Indonesia buruk, maka mari berpikir dan bertindak bersama untuk kemajuan PENDIDIKAN di INDONESIA

Sumber: [Al Jazeera]          http://www.aljazeera.com/programmes/101east/2013/02/201321965257154992.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s